Komodotrekker.com — Dibawah rindangnya pohon kesambi (Schleichera) yang mulai rimbun setelah disiram hujan bulan lalu sebagai pratanda musim kemarau berangsur usai. Kami dikejutkan dengan ditemukannya seekor Komodo jantan. Reptil purba itu berbaring diantara ribuan daun kering yang membuat penyamarannya sempurna, tepat disamping jalur trail yang sedang kami lalui.

Seluruh tubuhnya terbaring kaku, ekornya membentuk setengah lingkaran, jemarinnya yang dilengkapi dengan cakar berwarna hitam, tajam dan keras juga kokoh tersebut terlihat lemas diatas permukaan tanah. Meski demikian, matanya bergerak aktif, memperhatikan tamu kami yang kegirangan menjumpainya setelah dua jam lebih menyusuri habitatnya dalam lembah yang diselimuti oleh vegetasi tropis serta pepohonan berkanopi.
Pada lapisan kulit luar mulutnya, tepat diantara hidung dan bagian bawah mata kirinya, terlihat bercak darah dan sisah daging segar menyebar sejajar, mengikuti arah rahangnya yang kokoh.
“Everyone, please come closer!
Look at these flesh dots, this komodo dragon seems just eat something this morning” Saya memberitahu Mr. Geordie bersama keluarganya agar menyaksikan secara langsung oleh mereka apa yang baru saja saya amati.
“Komodo memang berburu dipagi hari mulai pukul 06.00 – 10.00 WITA. Setelah itu, hewan purba ini akan mencari teduh dibawa pepohonan” ungkap Ongky, park ranger yang memandu petualangan kami dalam perjalanan Adventure Trek Wae Waso di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo (TNK). Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dari pengamatan yang amat serius dari Mr. Geodie terhadap Komodo jantan yang tampak pasif tersebut, ia menemukan sesuatu yang amat mengejutkan. Sebuah benda menyerupai tulang berwarna putih kecoklatan, berukuran lebih dari 15 CM, tampak menjuat dari tubuh komodo tersebut, benda tajam tersebut merobek lapisan kulit keras bergerigi diantara tulang rusuk dari sang kadal raksasa.
“Louis, look at that! Isn’t it a bone or something?” Jelas Mr. Geordie penasaran sambil menunjukan benda aneh itu dari tubuh predator teratas dikawasan konservasi ini.
Untuk memastikan benda tersebut, Ongky mencoba menyungkilnya mengunakan tongkat pawang yang dibawahnya. Namun, benda berupa tulang itu tampak tertanam dari dalam tubuh dan sulit dicabut dan bahkan tidak dapat digoyangkan.
Mrs. Osie, Oma dari Mr. Geordie, terlihat sedih menyaksikan kami menyetuh benda tajam tersebut. Ia tahu bahwa Komodo jantan isedang menahan rasa sakit.
“Please stop! it must be suffering from pain” dengan nada sedih Oma Osie mendesak.

Benda tersebut memang sulit dipastikan antara tulang atau tanduk rusa. Sebagaimana diketahui, hewan komodo tidak mengunyah mangsanya setelah berhasil ditangkap. Reptil ini umumnya menelan mangsanya dalam dalam ukuran besar, bahkan menelan secara utuh mangsa yang berukuran kecil. Sistem pencernaanya mampu memproses sebagian besar bagian tubuh mangsa, termasuk tulangnya, sementara sisah yang tidak tercerna dikeluarkan melalui veses.
Dengan penuh rasa penasaran, kami terus mengamati kejadian tersebut. Sebuah pengalaman yang memperlihatkan sisi lain dari proses bertahan hidup dalam ekosistem unik di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo. Di habitatnya yang liar, perjuangan mempertahankan hidup tidak selalu berlangsung tanpa rasa sakit, bagi sang predator yang berada di puncak rantai makanan sekali pun.
Sebelum meninggalkan tempat Komodo jantan itu berbaring, saya mengajak keluarga wisatawan asal Australia tersebut untuk mengabadikan momen langka yang sulit terlupakan.
Penulis merupakan tour guide resmi Komodo Trekker sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Manggarai Barat.
Komodo Trekker — Your Gateway to the Wonders of Komodo National Park.





