Komodo Trekker – Bau busuk menyengat tercium dari arah sebuah kali mati. Kami pun mengikuti aroma busuk itu dan menemui bangkai anak komodo yang tergelatak dipermukaan tanah dengan posisi terbalik, tepat dipinggir kali.
Kepala serta kedua paha hingga pangkal ekornya masih utuh. Namun, isi perut hingga lehernya telah hilang, menyisahkan ranggas tulang rusuknya yang mungil mengering terpapar sinar matahari. Daging tubuhnya yang mungil tampak merah kecoklatan, dari kondisinya, peristiwa pencabikan itu terjadi sehari sebelumnya.

Bangkai anak komodo tersebut kami temukan pukul 10.30 WITA, (Sabtu, 24 Oktober 2026), ketika melintas dalam petualangan (Adventure Trekking) menuju Wae Waso di Loh Buaya, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo (TNK).
Jagawana (Park Ranger) sekaligus pemandu petualangan kami, bernama Ongky, menjelaskan bahwa kematian anak komodo ini disebabkan oleh predator langit berpenglihatan tajam yaitu burung elang laut.
Sebagaimana diketahui, anak – anak Komodo akan tinggal diatas pohon selama tiga tahun setelah menetas untuk menghindari pemangsaan oleh komodo dewasa termasuk induknya sendiri. Namun selama diatas pohon predator mereka adalah burung elang laut.
“Bisa jadi, anak komodo ini dimakan burung elang, karena komodo kecil seukuran ini umumnya masih tinggal diatas pohon untuk menjaga dirinya dari pemangsaan induknya sendiri.” Ungkap Onky sambil mengamati bangkai anak komodo itu menggunakan tongkat cabang yang dibawanya.
Pandangan jagawana itu didukung oleh pendapat dari Mr. Geodie, salah satu wisatawan yang turut menyaksikan bangkai komodo kecil tersebut. Ia berpendapat bahwa anak Komodo itu dipastikan dimakan oleh burung elang, sebab selain burung elang, predator komodo hanyalah sesama Komodo. Namun, jika komodo dewasa yang memangsanya, tentu tidak akan menyisahkan daging dari anak komodo itu.

“Saya pikir, anak komodo ini dimakan oleh burung elang, karena tidak semua badannya hilang” ungkapnya sambil menunjukan sisah daging pada bangkai anak Komodo itu yang dikerumuni oleh puluhan ekor lalat berwarna hijau sambil memotret bangkai yang beraroma daging busuk.
Bangkai anak komodo itu memang ditemukan tepat dibawah pohon lontar yang diapiti oleh pohon parasit yaitu pohon beringin (Ficus Banyanminggus) yang memungkinkan seekor elang membawahnya diatas pohon lalu merobek daging dan memakan isi perutnya lalu membuang sisa daging yang cukup sulit diambil.
Bagi tamu kami, sebuah keluarga dari Australia, temuan tersebut menjadi bagian dari pengalaman menyaksikan kehidupan liar yang menakjubkan di habitat asli komodo. Di tengah petualangan menyusuri kawasan pedalaman Loh Buaya, mereka tidak hanya berkesempatan melihat satwa secara langsung, tetapi juga menjumpai jejak-jejak kehidupan liar yang memperlihatkan kerasnya persaingan untuk bertahan hidup di alam.
Jika manusia yang lapar akan bertanya, “Hari ini mau makan apa?”, pertanyaan bagi satwa di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo tentunya berbeda: “Hari ini mau memangsa hewan apa?”
Di sinilah salah satu keistimewaan petualangan wisata di pedalaman Loh Buaya, Pulau Rinca. Peluang untuk menyaksikan kehidupan satwa yang unik beserta dinamika rantai makanan dalam ekosistem kawasan konservasi Taman Nasional Komodo menjadi bagian dari pengalaman yang sulit dilupakan.
Komodo Trekker — Your Gateway to the Wonders of Komodo National Park.






